Ambang petang, pendar cahaya matahari masih hangat menyinari. Selepas menyusuri jalanan kota Luang Prabang nan asri dan alami, kami kini di atas perahu. Bersiap berlayar menyusuri Sungai Mekong hingga bersua cecabangnya, Sungai Nam Khan.
Pelayaran ini, sebagaimana banyak dikisahkan para pelancong lintas bangsa, menawarkan pemandangan alam yang mengundang pandang, diapit perbukitan berikut kuil-kuil tersembunyi di balik pepohonan yang menyimpan kisah patung-patung Buddha bersejarah telah ada di sana ratusan, bahkan konon ribuan tahun.
Bersama Senglao Cruise, kami, Anak Agung Gede Rai dan Anak Agung Rai Suartini, Founder Museum ARMA, serta pengelana global Putu Suasta dan perupa I Ketut Budiana, terhanyut meresapi momen kebersamaan yang boleh jadi tak terlupakan ini.
Selain hidangan petang dengan aneka lauk pauk, sayur-mayur dengan sajian kuliner khas Luang Prabang, pemandangan matahari terbenam dengan riak cahayanya yang memantul di sungai, begitu mengesankan.
Biasanya, perjalanan dengan perahu Longtail tradisional ini dimulai dari dermaga Tha Heua Mai, dimana para wisatawan akan dijemput tuk-tuk menuju tepi sungai. Dari sana, perahu Longtail Lao tradisional, seperti Senglao Cruise, akan membawa kita menyusuri Sungai Mekong menuju pertemuannya dengan Sungai Nam Khan. Sepanjang perjalanan, kita dapat menikmati pemandangan desa-desa lokal yang membayang di tepian, tak ketinggalan aktivitas sehari-hari penduduk setempat yang memancarkan keakraban dan kehangatan.
Sambil menikmati hidangan diselingi pertunjukan tarian tradisional Laos dengan musiknya yang sederhana dan ritmis, percakapan pun mengalir di antara kami. Bapak Agung Rai menyampaikan pandangan, “Luang Prabang memang layak sebagai Kota Heritage yang ditetapkan oleh UNESCO. Warisan budayanya terjaga hingga kini, tecermin dari tata kota dan bangunannya yang hampir sebagian besar masih asli, menggambarkan tingginya peradaban yang telah dicapai oleh negeri dan masyarakat Laos ini.”
Memang sebuah kota atau wilayah dengan situs tertentu berpeluang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia bila memenuhi beberapa kriteria antara lain: Kota atau situs tersebut memiliki nilai universal luar biasa (Outstanding Universal Value – OUV).
Dengan kata lain, “ Kota tersebut harus memiliki warisan budaya yang unik, teruji nilai signifikan bagi peradaban manusia, sekaligus dapat menjadi contoh penting bagaimana warisan budaya leluhur tetap terjaga sebagai daya hidup dan kehidupan yang dihayati dan dipraktekkan masyarakatnya hingga kini, “ tukas Gung Rai. Selain itu warisan budaya yang ada memang harus terjaga keasliannya dan tidak mengalami perubahan yang mengurangi nilai historisnya.
Namun yang tak kalah pentingnya, cetus Putu Suasta, “Kota itu harus memiliki mekanisme perlindungan yang memadai untuk memastikan keberlanjutan warisan budaya tersebut. Kota juga harus memiliki peran sejarah atau budaya yang kuat, baik secara lokal, regional, maupun internasional.” Luang Prabang memenuhi semua kriteria yang digariskan UNESCO sebagai Kota Heritage. Partisipasi masyarakat menjadi bagian yang signifikan, menentukan bagaimana nilai-nilai peradaban dan pengelolaannya terwariskan lintas generasi.
Di Luang Prabang, tradisi sosial kultural yang masih berlangsung hingga sekarang, yakni sedini pagi, adalah pemandangan rutin menyaksikan deretan biksu berbalut jubah saffron berjalan perlahan, menerima persembahan dalam keheningan. Ritual Tak Bat ini bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk keseimbangan antara memberi dan menerima. Praktik serupa sesungguhnya dapat ditemukan juga di Bali, di mana sesaji diletakkan dengan penuh penghormatan, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang berakar dalam keyakinan spiritual.
Begitulah, percakapan di atas perahu berlintasan. Menurut Pak Gung Rai, Denpasar dan Bali memiliki karakteristik yang kuat sebagai kandidat kota warisan dunia. Keunggulan utama Bali sebagai pusat kebudayaan adalah keberlanjutan seni tradisionalnya yang masih hidup dalam masyarakat, mulai dari seni tari, ukiran, ritual keagamaan, hingga sistem subak yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Keunikan Denpasar, Bali umumnya, terletak pada kombinasi antara peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan Bali, keindahan arsitektur pura, dan dinamika kehidupan kota yang tetap mempertahankan akar budayanya.
Bali juga memiliki kesamaan dengan Luang Prabang dalam aspek warisan tak benda yang masih bertahan. Antara lain seperti dikemukakan di atas, yakni ritual Tak Bat di Laos, yang selaras upacara harian seperti persembahan sesaji di pura dan pekarangan rumah yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat Pulau Dewata.
Kami sepakat, sebagaimana ditunjukan masyarakat umumnya di Luang Prabang, bahwa keterlibatan komunitas dalam melestarikan tradisi menjadi faktor penting dalam menjaga keaslian budaya yang dapat menjadi kekuatan utama dalam proses pengajuan sebagai kota warisan dunia.
Selain itu, standar kota warisan dunia mengharuskan adanya regulasi dan kebijakan konservasi yang tegas dalam menjaga bangunan dan situs bersejarah. “Jika Denpasar dan Bali ingin diakui sebagai kota warisan dunia, diperlukan kebijakan yang lebih ketat dalam mengelola pembangunan kota agar tetap seimbang antara modernisasi dan pelestarian budaya”, tegas Gung Rai.
Founder Museum ARMA, yang telah mengunjungi situs dan museum di berbagai negara sedari masa muda, melihat Bali, terkhusus Denpasar, berpeluang seperti Luang Prabang sebagai destinasi warisan budaya dunia. "Bali memiliki potensi besar untuk mempertahankan warisan budayanya, tetapi kita juga harus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak menghapus identitas asli kita berupa adat istiadat berikut berbagai upacaranya, termasuk bangunan dengan filosofi asta Kosala kosalinya," ungkapnya.
Denpasar dapat belajar dari Luang Prabang dalam hal pelestarian warisan budaya. Kota kecil di Laos itu telah berhasil mengelola pariwisata tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisionalnya. Tidak hanya bangunan tua yang dijaga, tetapi juga pola hidup masyarakat yang masih mempertahankan ritual dan tradisi leluhur mereka.
"Bali punya daya tarik yang lebih kuat karena selain warisan fisik, budaya kita juga masih sangat hidup," tambahnya. Ia menekankan pentingnya peran pemerintah dan masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan perkembangan modern.
Lebih lanjut, Anak Agung Gde Rai memperkenalkan konsep The Living Museum, di mana Bali tidak hanya menjadi tempat yang menyimpan artefak budaya, tetapi juga mempertahankan kehidupan seni dan tradisi yang terus berjalan. Ia melihat bahwa keberlanjutan budaya bukan hanya tentang menjaga bangunan dan benda-benda bersejarah, tetapi juga memastikan bahwa ritual, seni, dan interaksi sosial yang membentuk identitas Bali tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Sangkan Paran
Dalam perbincangan, mengemuka juga bahasan tentang wisata perahu yang patut dikembangkan juga di Bali. Sebagai catatan bandingan, pelayaran di Sungai Mekong adalah salah satu aktivitas utama bagi wisatawan di Luang Prabang. Wisatawan dapat menikmati pemandangan alam yang menakjubkan, mengunjungi desa-desa tradisional, dan menjelajahi gua-gua suci. Salah satu destinasi populer adalah Gua Pak Ou, yang dikenal dengan ratusan patung Buddha yang tersimpan di dalamnya.
Perjalanan ke Gua Pak Ou biasanya mencakup kunjungan ke desa kerajinan lokal seperti Ban Xangkhong, yang terkenal dengan produk sutra dan kertas tradisional.
Selain itu, tersaji pemandangan pegunungan dan hutan yang memukau, serta merasakan kehidupan desa di sepanjang sungai. Beberapa tur menawarkan pengalaman kuliner lokal Laos selama pelayaran, memberikan wawasan lebih dalam tentang budaya dan tradisi setempat.
Dengan berbagai pilihan aktivitas di Sungai Nam Khan dan Sungai Mekong, Luang Prabang menawarkan pengalaman wisata yang kaya akan budaya dan keindahan alam.
Kota kuno di Laos ini memiliki segalanya: kombinasi langka antara alam dan kreasi manusia, dengan sentuhan tradisi spiritual dan budaya.
Ini membuat Luang Prabang tampil menarik di mata peziarah, backpacker, hingga para petualang yang peduli terhadap lingkungan.
Luang Prabang memang mengundang renungan, perihal hakekat kebudayaan dan kehidupan. Keindahan alamnya dilengkapi oleh karya seni manusia berupa istana-istana, kuil, dan rumah tradisional, serta kehidupan spritual budhis-nya, mengingatkan kita pada ujaran penisepuh tentang Sangkan Paraning Dumadi; dari mana dan akan kemana hidup ini. (w.wisatsana)
Lebih lanjut baca...