Pameran seni grafis bertajuk Bala Aswattha karya seniman Jepang
Comeon Komatsu resmi dibuka pada 15 Maret 2025 pukul 18.00 WITA di ARMA
Art Veranda, Ubud, Bali. Suasana hangat di halaman ARMA dengan kehadiran
para seniman dan pencinta seni yang datang untuk menyaksikan langsung
karya-karya woodblock print yang dipamerkan. Sebanyak 29 cetakan
kayu ditampilkan, menggambarkan filosofi pohon beringin (Aswattha)
sebagai lambang kekuatan (Bala) serta keterkaitannya dengan manusia dan
alam.
Pembukaan berlangsung guyub dan akrab, ditandai pemukulah gong oleh founder ARMA Museum, Anak Agung Gde Rai. “Setiap
tahun, ARMA dengan bangga menjadi ruang bagi karyanya, memperkuat
hubungan budaya antara Bali dan Jepang melalui seni. Pameran ini bukan
hanya selebrasi atas pencapaiannya, tetapi juga sebuah pengingat tentang
bagaimana seni bisa menjadi jembatan yang menghubungkan lintas budaya,
waktu, dan kedekatan secara emosional,” ungkap Gung Rai.
Pengunjung
tampak antusias berdiskusi, mengamati setiap detail karya yang
terpajang. Comeon Komatsu, yang telah lama menjalin hubungan dengan
Bali, berbagi cerita mengenai proses kreatifnya dalam menangkap esensi
pohon beringin melalui teknik cetak tradisional. Bagi Comeon Komatsu,
pohon beringin bukan sekadar elemen lanskap, tetapi entitas yang
memiliki kekuatan spiritual. Akar-akar kokohnya yang menjulur ke bumi
mencerminkan keteguhan dan daya tahan, sementara ranting-rantingnya yang
membentang ke langit menjadi penghubung antara dunia fana dan dimensi
yang lebih dalam.
Dalam tradisi Bali, pohon beringin dianggap
sakral, tempat bersemayamnya kekuatan alam dan perlindungan bagi
kehidupan di sekitarnya. Melalui teknik woodblock print, Comeon Komatsu menangkap energi yang
memancar dari setiap batang, akar, dan daun, menghadirkan visualisasi
yang lebih dari sekadar bentuk—melainkan esensi dan spirit pohon
beringin itu sendiri.
Sementara itu, Anak Agung Gede Yudi Sadona, Direktur ARMA Museum, menekankan bagaimana karya Comeon Komatsu selaras dengan misi ARMA dalam mempererat hubungan budaya melalui seni. “Comeon bukan hanya seorang seniman berbakat, tetapi juga seorang pencinta Bali yang mendalam. Lewat woodblock print, ia menangkap roh dan spirit Bali dengan cara yang begitu khas—melalui detail yang halus, komposisi yang peka, dan energi yang terasa dalam setiap goresannya. Bukan sekadar mengabadikan keindahan visual, Kamon menerjemahkan jiwa Bali ke dalam kayu dan cetakan, menghadirkan perspektif yang segar dan mistis”.
Melalui Bala Aswattha, Comeon Komatsu mengajak siapa saja untuk merenungkan ketangguhan pohon beringin, kehadirannya yang sakral dalam budaya Bali, serta keterkaitannya dengan jiwa manusia. Dua puluh sembilan karya dalam pameran ini merupakan bentuk meditasi visual, mengajak kita untuk kembali terhubung dengan alam dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya.
Sebagai bagian dari misi ARMA Museum & Resort dalam mempererat hubungan budaya antara Bali dan Jepang, pameran ini menawarkan perspektif unik terhadap alam dan tradisi. Bala Aswattha akan berlangsung hingga 31 Maret 2025, membuka kesempatan bagi lebih banyak penikmat seni untuk menikmati karya-karya yang penuh makna. (RLS)
Sebagai bagian dari misi ARMA Museum & Resort dalam mempererat hubungan budaya antara Bali dan Jepang, pameran ini menawarkan perspektif unik terhadap alam dan tradisi. Bala Aswattha akan berlangsung hingga 31 Maret 2025, membuka kesempatan bagi lebih banyak penikmat seni untuk menikmati karya-karya yang penuh makna. (RLS)
Berbagi Artikel