Kafe Puitika dan Salad Kaki Lima

Kamis, 20 Maret 2025 : 12:40

Selain tamasya berlayar petang hari di Sungai Mekong, seraya menikmati pemandangan alamnya yang memukau, jangan lewatkan langgam keseharian kehidupan Luang Prabang. Kota yang terbilang mungil ini, terlihat eksotik dengan deretan kafe-kafe sepanjang jalan yang buka siang-malam.

Kami, Anak Agung Gede Rai dan Anak Agung Rai Suartini, Founder Museum ARMA, serta pengelana global Putu Suasta dan perupa I Ketut Budiana, patut berterima kasih kepada Jue Theerapat Yootanorm, akrab dipanggil Joo. Sedini terbang dari Bali begitu sigap dan ramah menata perjalanan, tak segan pula mengantar kami  ke berbagai destinasi historis pilihan di Laos; meresapi kultur dan menikmati kuliner yang memang unik dan otentik.


Kafe-kafe puitik itu, selintas mengingatkan kita pada kawasan Saint Germain di Paris, dengan sejumlah kafe legendarisnya; di mana para seniman, cendekiawan, politisi berbaur hangat dan berdebat aneka topik terkait pula dinamika penciptaan seni. Mereka belakangan dikenal sebagai para maestro di bidangnya.

Sebut saja perupa Pablo Picasso, novelis Ernest Hemingway, penyair Apollinare, berikut nama-nama sohor lainnya; Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, Albert Camus, André Breton, Juliette Gréco, dll. Kafe-kafe itu menjadi petilasan historis tersendiri. Misalnya Café de Flore, Les Deux Magots, dan Brasserie Lipp yang hingga kini terus didatangi wisatawan lintas bangsa. Mereka ngopi di sana sambil membayangkan bagaimana tempat kongkow penuh romansa itu menjadi saksi serunya perdebatan intelektual yang mewarnai gaya hidup masyarakat kota kosmopolitan dunia ini (Parisian).  Silang pandang mereka terbukti turut membentuk  pemikiran abad ke-20 yang pengaruhnya terasa hingga masa kini.

Sambil mengingat kehangatan persahabatan kawan kami Jean Couteau, yang sekian pekan lebih dahulu menikmati keelokan Luang Prabang, terpetik obrolan bahwa wilayah ini sempat menjadi bagian pemerintah kolonial Perancis (1893-1954). Jejaknya berupa tinggalan budaya Eropa yang mewarnai Luang Prabang, termasuk dalam arsitektur dan gaya hidup keseharian. Salah satu warisan yang bertahan hingga kini adalah tradisi kedai kopi dan kafe.

Perancis membawa kopi sebagai komoditas ke Laos, dan kota-kota seperti Luang Prabang mulai mengembangkan kedai kopi yang mengikuti gaya Eropa. Kafe-kafe ini tidak hanya menawarkan kopi khas Laos (dari dataran tinggi Bolaven), juga kopi-kopi dari belahan dunia lain, melainkan menghidangkan pula  croissant dan baguette, menu unggulan yang tersaji hingga sekarang.

Dalam kunjungan resmi sebagai Kepala Negara, Barack Obama sempat berkunjung ke Kuil Buddhis Wat Xieng Thong di Luang Prabang pada tahun 2016. Ia menyusuri Sungai Mekong, serta meresapi pula hangatnya Kopi di Kafe setempat.


Kombinasi antara budaya Laos dan Perancis menciptakan suasana puitik,  membayangi kehadiran banyak kafe di Luang Prabang. Bangunan dengan tata arsitek berwarna pastel dan perabotan kayu klasik menjadi pesona tersendiri.  Bangunan-bangunan tua era kolonial tersebut menciptakan atmosfir unik, membuat kita betah berlama -lama di sana. Kunjungi saja Saffron Coffee Alley, L'Elephant Restaurant, Tamarind Restaurant, Café de Laos, The Belle Rive Terrace, dan sebagainya.


Sambil meneguk americano, long black, latte, dan cappucino, kami lebih dari tiga hari siang-malam meresapi kehidupan puitika alami Luang Prabang ini. Tentu saja diselingi diskusi dan perdebatan, kangin-kauh (timur-barat) alias tanpa terikat topik utama, hidup terasa sungguh hidup. Amboiii, hangatnya persahabatan, indah dikenang dan sesekali kini terbayang.

 

Anak Agung Rai berkali menyatakan bangun ala kolonial masih terjaga hingga kini, selaras secara alami dengan keseharian masyarakat Luang Prabang.  “Lihat tradisi bangunannya yang terdiri dari bata merah, jejak kebudayaan masa itu juga bisa dilihat kesamaannya dengan yang ada di Bali. Misalnya penggunaan bata merah di Kertha Gosa, Klungkung dan yang lebih lama lagi di Pura Kehen, Bangli,” ujar Founder Museum ARMA ini.

Luang Prabang sendiri dahulu adalah ibukota Kerajaan Lan Xang (1353–1707). Meski Laos sempat menjadi bagian dari protektorat Indochina Perancis, akan tetapi kedaulatan kerajaan tetap dihormati hingga tahun 1946. Laos sendiri kemudian memperoleh kemerdekaan penuh pada tahun 1953.

Sebagai pusat kebudayaan dan spiritual, Luang Prabang dihiasi oleh kuil-kuil Buddha yang indah, di mana kehadirannya memiliki peran penting dalam sejarah kawasan ini. Memang pada abad ke-19, kerajaan ini terus-menerus berada di bawah ancaman dari kerajaan Siam (Thailand), Vietnam, dan bahkan juga sempat mengalami serangan dari bangsa-bangsa dari kawasan China. Seluruh negeri-negeri ini boleh dikata terangkai dalam satu daratan antara kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.

Mengemuka pula dalam perbincangan kami, bagaimana proses Luang Prabang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1995. “Tentu keputusan ini tidak lepas dari kenyataan bahwa kota ini dapat dipandang sebagai contoh perpaduan arsitektur tradisional Laos dengan gaya kolonial Eropa, terjalin secara selaras dan harmoni dengan perkembangan budaya setempat yang kental dengan kehidupan religius masyarakatnya,” kata Agung Rai.

Putu Suasta sebagai pengelana global menyatakan, bahwa Luang Prabang memang punya keistimewaan tersendiri. Tidak jauh beda dengan wilayah-wilayah di India yang sempat dikunjunginya,  di mana kehidupan sosial budaya masyarakatnya berjalan harmoni  dengan keyakinan religius yang dijalani secara taat.  Atau wilayah-wilayah di kawasan Spanyol dan Portugal dengan gereja-gereja dan biara-biaranya yang khas, mudah ditemui sepanjang perjalanan ziarah legendaris Camino de Santiago. 


“Wah saya ketika perjalanan ziarah ini sering menemukan biara-biara tua di pegunungan-pegunungan dan lembah-lembah.  Masih asri di sela  rindang pepohonan, berikut jalan setapaknya yang berliku. Rata-rata sudah berusia ratusan tahun, bahkan  ada yang sudah ribuan tahun,” tukas Putu Suasta. 

Camino de Santiago (Jalan Santo Yakobus) adalah rute ziarah yang telah berlangsung sejak abad ke-9, menuju makam Santo Yakobus (Santiago), salah satu murid Yesus, yang diyakini berada di Katedral Santiago de Compostela, Portugal. 

Ya, kami selama di Laos khususnya di Luang Prabang, berkesempatan mengunjungi berbagai situs warisan budaya, termasuk Wat Xieng Thong yang terkenal. Di Luang Prabang ada lebih dari 30 kuil Budha kuno, tersebar di berbagai penjuru. Kondisinya masih terjaga selaras  kehidupan keseharian biksu-biksu yang mendiaminya, tetap taat menjalani tradisi spiritual religiusnya.

Di sinilah, sekitar pada abad ke-14, Raja Fa Ngum membangun Kerajaan Lan Xang, menjadikan Luang Prabang sebagai pusat spiritual dan politik. "Pha Bang," patung Budha suci yang menjadi asal nama kota, berdiri sebagai simbol perlindungan dan keberkahan bagi penduduknya.


Terkait sejarah, Bapak Agung Rai menautkan kehadiran kebudayaan bata merah ini dalam konteks yang lebih luas. Antara lain adanya hubungan Lan Xang dengan Kerajaan Ayutthaya di Siam, dan kerajaan-kerajaan maritim di Nusantara seperti Majapahit dan kemudian Gelgel di Bali.


Bila mengamati tinggalan historis, memang menunjukkan bahwa sedini itu telah terbangun jaringan perdagangan dan pertukaran budaya yang kuat. Lan Xang, sebagai kerajaan yang strategis di jalur perdagangan Sungai Mekong, terhubung dengan Siam yang pada masanya menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara. Dari sana, pengaruh perdagangan menyebar ke pelabuhan-pelabuhan utama di Sumatra, Jawa dan Bali, menciptakan interaksi budaya yang memperkaya seni, arsitektur, dan sistem kepercayaan di masing-masing wilayah.

“Kalau kita mengamati Goa Gajah dan petilasan goa-goa di Sungai Pakerisan, serta Gunung Kawi, jelaslah penyebaran agama Budha juga memang sampai di Bali sejalan dengan masa-masa perkembangan kerajaan di Laos,” kata Bapak Agung Rai yang sudah puluhan tahun melakukan napak tilas “golden hours” di kawasan historis di Bali tersebut. 

"Golden Hours" adalah sebuah program yang diinisiasi oleh Agung Rai, mengajak sahabat-sahabat dan para wisatawan untuk berjalan dini pagi menyusuri kawasan historis spiritual di sekitar Ubud hingga Tampaksiring. Ini adalah  momen refleksi, interaksi dengan alam, dan penghayatan terhadap seni serta budaya juga kehidupan spiritual religius historis. Satu upaya membangun keharmonisan diri dengan alam, manunggaling semesta.

Salad Kaki Lima

Selain meresapi jadi warga dunia di kafe-kafe puitika, tak boleh dilupakan menikmati hidangan sohor ala warung sederhana dengan makanan khasnya yang mendunia, yakni di Papaya Salad Restorant di Luang Prabang.


Berdasarkan catatan yang terbaca, restoran yang wujud aslinya lebih berupa warung ini memiliki sejarah menarik, reputasinya terus berkembang di kalangan wisatawan dan penduduk lokal. Restoran ini pertama kali dibuka beberapa tahun yang lalu, resminya 2016, oleh seorang koki lokal yang ingin memperkenalkan masakan khas Laos dan Vietnam dengan fokus pada som tam atau salad pepaya, hidangan yang sangat populer di kedua negara tersebut. Koki tersebut, yang memiliki latar belakang sebagai pedagang makanan jalanan, ingin menciptakan ruang makan yang lebih intim dan nyaman, di mana orang bisa menikmati cita rasa asli masakan tradisional Laos dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan.

Joo sudah jauh hari mengungkapkan bahwa kami harus berkunjung ke Papaya Salad Restaurant ini. Kami  bersama Bapak Supat Yootanorm dan Ibu Ornee Yootanorm, seiring berangkat dari Bangkok, memang berniat akan menikmati cita rasa  makanan Laos ini,  dengan suasana khas kaki lima di pinggir jalan; duduk  di kursi kayu menikmati hidangan yang terhampar pula di meja kayu sederhana itu. 
 
Nama "Papaya Salad" sendiri dipilih karena hidangan ini menjadi ikon dari menu mereka, menggambarkan kesederhanaan dan keaslian masakan yang mereka tawarkan. Sejak pertama kali dibuka, restoran ini cepat mendapatkan pengakuan karena konsistensinya dalam menggunakan bahan-bahan segar dan lokal serta penampilan yang elegan namun tidak mengedepankan kemewahah. Menjadikannya tempat sempurna untuk mencicipi hidangan otentik sambil menikmati atmosfer udara terbuka Luang Prabang yang nyaman hangat itu.

Sambil menikmati hidangan segar, kami juga membincangkan filosofi restoran ini. Terutama bagaimana dukungannya pada komunitas lokal dengan membeli bahan-bahan dari pasar-pasar terdekat, serta bekerja sama dengan petani setempat. Mereka sangat mengutamakan keberlanjutan dan kualitas, dengan menggunakan bahan-bahan organik sebanyak mungkin, seperti cabai, jeruk nipis, dan pepaya segar yang langsung didapatkan dari petani sekitar Luang Prabang.

Suasana restoran yang sederhana, namun penuh perhatian terhadap detail, menciptakan pengalaman yang sangat personal bagi setiap pengunjung. Kami sungguh menikmati hidangan sambil meresapi pemandangan jalanan Luang Prabang yang tenang.

Seiring berjalannya waktu, Papaya Salad Restaurant telah berkembang menjadi salah satu destinasi kuliner yang tidak boleh dilewatkan di Luang Prabang. Restoran ini terus berinovasi dengan menu mereka, menambahkan berbagai variasi salad pepaya yang lebih modern, seperti varian yang menggunakan bahan-bahan seperti udang atau ayam panggang, tetapi tetap mempertahankan cita rasa autentik yang menjadi ciri khas mereka.

Sungguh pengalaman kuliner yang tak terlupakan, sebelum kami kemudian  meluncur dengan kereta api dari Luang Prabang menuju ibu kota Laos, Vientiane, berjarak sekitar 340 Km. Kereta cepat yang dioperasikan oleh  Laos-China Railway, membawa kami melaju 160 Km/Jam melalui jalur Boten - Vientiane. (w. sana).

Lebih lanjut baca... 

Sangkan Paran Luang Prabang

 



Berbagi Artikel